Time is Running

Selasa, Agustus 18, 2015

The other side of Gili Ketapang, Probolinggo

Selamat pagi.
Balik lagi nulis di blog, efek jadi pengacara (pengangguran banyak acara) setelah melewati ujian hidup sebagai mahasiswa *ehem* SKRIPSI *jengjengjeng*.

Alhamdulillah, sudah yudisium, sudah jadi sarjana muda. Officially S. KH *idung kembang kempis*. Ada yang bilang S. KH itu Sarjana Kurang Hiburan. Kekeke ~

Demi mengisi kekosongan hari-hari menjelang Koas dimulai, alangkah baiknya menunaikan ibadah Jalan-Jalan *horeeee*. Ceritanya kemarin jalan-jalan ke Pulau Gili Ketapang, Probolinggo *backsound Tasya-Libur Telah Tiba*. 

Travelmates saya kali ini adalah Mbak Faiz, S. KH yang notabene adalah penduduk Probolinggo, iya, jalan-jalannya Cuma 2 orang, rencana awalnya 4 orang, berhubung seorangnya balik Surabaya dan yang satunya ternyata dipingit dirumah jadilah jalan-jalan berdua saja, buat #exploreprobolinggo dan #gili ketapang.

Berangkat dari rumah jam 06.30 pagi, saya terlebih dahulu naik bus menuju terminal Bayuangga, Probolinggo, buat dijemput mbak Faiz disana. Sesampai di terminal sekitar pukul 08.00 *lama yak -_-* setelah itu kita cus menuju rumah mbak Faiz, sarap2an dulu disana, ini sarapan yang kedua, sebelum berangkat udah sarapan dirumah, pakek perkedel anget, nyamnyam,  kabar-kabaran sama seorang temen yang juga mau ikut, tapi ternyata pas mau cus dia tetiba ngabarin gajadi ikut gara-gara mau balik Surabaya *oke bhay*.



Dari rumah ga prepare APAPUN. Cuma bawa air minum, jaket, duit dan hp *ini wajib*. Nah, ternyata mbak Faiz punya saudara jauh yang rumahnya di Gili Ketapang sana. Okelah, kita bisa ampir disana. Perjalanan dirumah, setelah pamit sama keluarga mbak Faiz, kita cus ke Pelabuhan Tanjung Tembaga alias pelabuhan Mayangan probolinggo, memasuki pelabuhan tercium bau khas laut aka amis amis ikan laut dan music dangdut dari salah satu kapal yang sedang dibersihkan oleh para ABK (anak buah kapal). For the first time in forever, pertama kalinya ke Pelabuhan dan excited banget hehehe.

Setelah muter-muter cari tempat parkir yang susah ditemukan, kami mendapati satu kapal yang bersandar siap berangkat menuju Pulau Gili dengan beberapa penumpang, yeiy. Tapi tapi saya kaget, soalnya tempat duduk kapalnya jauh dari ekspetasi saya, dimana “lantai kapalnya” itu loss, semacam lebar tanpa ada tempat duduk, jadi ya glempohan (apa ya bahasa Indonesianya?) dengan melepas alas kaki. Baru tahu kalo kapal ini terdiri dari 2 bagian, yang “lantai bawah” digunakan untuk menampung barang bawaan penumpang, misalnya sayur mayur, jagung, sepeda, barang belanjaan dari departemen store *serius* dan lainnya ga sempet intip hehehe. Sementara “lantai atas” digunakan untuk glempohan penumpang.

Pelabuhan Tanjung Tembaga

jadi, kita glempohan disini... 




Naik kapalnya pun dengan cara yang hmmm, sedikit mendebarkan, kita disuruh meniti sebilah papan kayu dengan penampakan air warna hijau kecoklatan dibawah kami, emhhh. Piye lek ceblok iki (gimana kalo jatuh) huhuhu. Apalagi saya tidak memiliki kemampuan berenang, bahkan untuk mengambang sekalipun, tenggelam malahan.

Dengan dibantu seorang bapak-yang-kelihatannya-ABK, akhirnya kita berhasil bergabung dengan penumpang lainnya *berhasil-berhasil-berhasil-horee*. Perlahan mesin kapal mulai dinyalakan dan penumpang lainnya mulai tiduran, lho lho lho, sempit buuuuk T_T. 

Apalagi kami harus berpegangan pada sisi kapal, karena tiap ada yang menaikkan barang, kapalnya mulai bergoyang, nggak maulah basah-basahan nyebur di pelabuhan gini. Mending basah-basahan pas udah nyampek huhuhu. Perlahan kapal mulai berjalan tek-tek-tek, pandai sekali si bapak mengemudi kapal, padahal tadinya kapal ini terjepit diantara 3 kapal, sekarang kapal ini mulai meninggalkan pelabuhan, warna air yang tadinya coklat kehijauan berubah jadi warna biru berpendar hijau, kyaaaa, buagus banget, Masya Allah ^_^.



Goyangan kapal juga mulai berkurang, kapal bergeraik naik turun seirama ombak yang memecah lautan, buih-buih disisi kapal, berpapasan dengan beberapa kapal yang hendak menuju pelabuhan, menjaring ikan, kapal pengangkut kayu gelondongan, dan kapal layar yang penumpangnya cuma sebiji. Wow. Tiba-tiba terjadilah ombak tinggi.. splashhh… aaah air lautnya nyiprat ke kapal, ke penumpang termasuk saya, asiiin -_- *yaiyala*.

Perlahan pulau gili mulai tampak, ada 3 tower provider dan 2 masjid besar. Penumpang mulai semakin lelap tertidur, ada yang foto-foto laut, makan jeruk, dan ada penumpang bayi sekitar 5 bulan juga tidur disamping Ibunya, tiba-tiba muntah, aaah kasian, susu yang diminumnya tadi sebelum perjalanan, sudah keluar lagi sebelum sempat dicerna, wajahnya tampak pucat, si Ibu juga tampak panik, lalu ia duduk sambil mendekap bayinya yang ditutup dengan selendang. Saya juga sempat khawatir, takut mabuk laut juga, kejadiannya live didepan mata saya. Tapi Alhamdulillah, nggak ada hasrat buat muntah. Saya bener-bener menikmati perjalanan laut ini. Lagi-lagi naik naik kapal ini juga pertama kalinya buat saya. Warna airnya yang biru kehijauan, desir angin laut, aaaa, wenak pol. Ohya, harga yang dibayar untuk nyebrang ke Pulau Gili ini seharga Rp. 7.000,-. Hmm, seharga saya naik bus dari rumah sampai terminal bayuangga.

Perjalanan menyebrang ini memakan waktu sekitar 30 menit, tapi kami turun bukan ditempat yang seharusnya, kata bapak pengemudi kapal tadi, ombaknya terlalu tinggi untuk berlabuh ditempat yang benar. Mau naik kapal susyah, turunnya nggak kalah susyah, hahaha. Jadi kami turun dibelakang rumnah warga yang berbatasan langsung dengan laut. Basah? Iya, banget, airnya sampek semata kaki. Sandal, kaos kaki juga ikutan basah.


Ohyaa, gili ketapang merupakan bagian dari kabupaten Probolinggo, yang menjadi pulau akibat abrasi laut, mbak Faiz juga mengatakan, gili semakain jauh dari Probolinggo, ada mitos yang mengatakan pulau ini mengapung dan setiap tahun bergerak menjauh beberapa senti. Benarkah? Kita akan dapatkan jawabannya pada beberapa paragraph lagi.

Begitu tiba di daratan pulau, mbak Faiz langsung menghubungi saudaranya, soalnya nggak tahu rumahnya. Agak ketar-ketir juga soalnya uda beberapa kali tanya ke warga, warga pada nggak kenal sama saudaranya. Hayoooo…

Ohya penduduk pulau ini satu bahasa, bahasa Madura. Beruntunglah saya, mbak Faiz jago berbahasa Madura. Sebenernya little-little I can juga, mudeng (paham) maksudnya, Cuma kadang mau ngomong, bingung. Semacam Enggih (iya), enjek (tidak), so’on (terimakasih), toreh (silahkan), de’er atau ngakan (makan), nginom (minum), bejeng (sembayang/sholat) saya masih mudeng dan bisa ngomong. Tapi kalo udah percakapan, kadang ada bahasa yang saya nggak ngerti, jadinya saya benar-benar mengandalkan mbak Faiz dalam hal komunikasi disini.

Setelah telpon-telponan, akhirnya saudaranya mbak Faiz njemput kita pakek motor. FYI disini jalannya kecil dan nggak beraspal, satu lagi yang bikin kaget, banyak “kismis” bertebaran dijalan, wkwkw. Apaan tuh? Yaa, itu adalah kotoran kambing dan domba yang cara memeliharanya tuh dilepas byar, jadinya ya kotorannya juga ambyar dijalan, hehehe. Mula-mula saya dulu yang diangkut kerumah saudaranya mbak Faiz, tiba disana saya disambut Yu’ (semacam panggilan Bulek atau Budhe).

 Yu’:“toreh-toreh, lebuh, basah ye nduk? Angguin sarong yeh?” (silahkan, silahkan, masuk, basah ya nduk? Pakai sarung ya?)
Saya: *shock*(dateng-dateng disuruh pakek sarung, fyi sarungnya buat perempuan, semacam rok mukenah yang dililitkan, bukan kayak sarung lakik yang motif kotak-kotak) “oh enten yu’, tak basah kok” (oh nggak, yu’, nggak basah kok). *menolak halus sambil senyum*.

Sembari menunggu mbak faiz, saya duduk-duduk di dapur Yu’, ada jerigen besar bertuliskan,”KUSUS AIR MINUM YA”. Ohya, saya tiba-tiba mikir *ceilah* jangan-jangan minumnya air asin dan disini nggak ada air tawar? Okay, kita simpen pertanyaan ini dulu.
Ternyata Yu’ membuatkan kami teh, sembari menunggu teh, saya disuguhin jajan keripik talas dan biscuit R*ma kelapa. Dasar suka nyemil, saya comotlah sebiji biscuit, dua biji, tiga biji. Aaaah, stop. Ini kue dan dirumah orang -_-, tiba-tiba Yu’ menghampiri saya, “Faiz tak temoh” (Faiz nggak ketemu)! Lho, bukannya tadi Faiz nunggu ditempat yang sama ya? Tak lama kemudian teh sudah jadi, dan datanglah mbak Faiz!!! Akhirnya kami pindah tamu-tamuan di teras depan rumah Yu’. 


Rumahnya enak, adem, halamannya berhiaskan batuan laut dan pasir laut. Haus sih, pengen minum tehnya, tapi takut airnya asin hohoho. Jadi minum air putih dulu yang nyangu dari rumah.
Yu’: “tak osah moleh, nginep bei, angin kenceng (nggak usah pulang ya, nginep aja, airnya kenceng).. dan bla..bla..bla.. “ *aku nggak mudeng*

Saya dan Faiz: *berpandangan* “Yo’ opo iki?”
Secara , gak prepare apapun buat nginep, mental juga nggak disiapin buat bermalam di Pulau ini, *masih mikir nggak ada air tawar, langsung inget rumah, mata berkaca-kaca, minta pulang saat itu juga, oh nggak ding, ini mah adegan sinetron yang sempet tertonton semalem, wkwkwk. Pikiran Cuma sampek ke “nggak ada air tawar” doang kok. Serius.
Saya: “faiz, kepiye iki?”
Faiz: “aku sih tadi sebelum berangkat udah diwanti-wanti sama Ibu, taku pulangnya ombaknya gede, kan tadi juga bawa salinan, meskipun bawahan doang sih, epik gimana?”
Saya: “hmmm, hmmm, tak sms Ibuk dulu deh”…


Wes mikir pol, kalo pulang sore ini ombak gede, bahaya, gimana kalo nggak bisa sampek rumah lagi T.T gimana wisudaku, koasku? *hahahah, mikir uda segitunya*. Untunglah faiz membawa celana panjang sebiji, buat saya. Dan setelah smsan sama Ibuk, disarankan buat nginep juga, ya masa faiznya nginep trus saya pulang sendirian ._. Ibuk juga bilang, “sekali-sekali lah, nginep di Gili”. Yah , akhirnya mantep deh buat nginep. Kejadian hari ini belum tentu terulang lagi. Kata orang jawa “Mumpung”, senyampang, selagi bisa.


Setelah makan siang pake ikan bakar dan ikan yang dimasak sarden, nggak tau nama ikannya. Enak lho :9 datanglah pakleknya faiz (suaminya Yu’) juga mengatakan hal yang sama, sebaiknya nginep, besok pagi-pagi pulang, kalo pagi anginnya nggak kenceng, begitupun ombaknya. Kami manut, mantuk-mantuk (mengangguk-angguk). Lalu paklek mengajak kami ke pantai, dueket banget sama rumahnya, kayak jalan dari kos ke Pasar Karangmenjangan. Ajibbbbb, pantainya buagus, anginnnya semriwing, biarpun matahari terik, tapi nggak berasa lho. Naluri anak darat yang main pantai, nggulung celana, cepot sandal, dan main air! Airnya perlahan-lahan surut, sampe karang-karangnya keliatan, ada keong-keong juga, yang jaman sekolah TK dan SD dulu diperjualbelikan abang-abang dipenggir tembok sekolah, harganya Rp.100,- sampek Rp.500,-. Yang cangkangnya dicat warna-warni, dibuat balapan keong *termasuk saya!*

Nemu udang cantik, ikan warna-warni diantara karang-karang, pas mau difoto udah kabur duluan. Ada sepasang suami istri yang ngumpulin batuan dan karang yang udah kering, mau dibuat pondasi rumah katanya. Kami juga melihat dua sampai lima ibu-ibu beserta anak dan suaminya yang beraktifitas dipinggir laut. Yang bapaknya pada nengokin kapalnya, anak-anak kecil pada lari-larian, mandi di laut, main sama kambing domba-iya, kambing domba juga main di pantai-dan Ibu-ibu pada ngumpulin pasir pantai. Eng-ing-eng, dibuat apa yah?

Usut punya usut, ternyata pasir pantai ini juga dibuat bangun pondasi rumah, dicampur sama semen, seperti pasir hitam yang sering kita temui, ya baru kali aja, lihat orang bangun rumah pakek pasir pantai, kua nggak? Kuat kok, kualitasnya sama kayak pasir hitam, cuma beda warna aja. Dan terjawablah teka-teki mengapa pulau ini seolah “bergerak” menjauhi Probolinggo. Hmmmm.. Penduduk disini bener-bener tergantung pada laut. Dari hasil laut aka ikan, pasir, batuan, semuanya dimanfaatkan untuk menyambung kehidupan. Sempet juga cerita-cerita, kalo anginnya kenceng dan ombak tinggi, mereka berhenti untuk melaut, it’s mean tidak ada penghasilan. Hmmm… apalagi angin seperti ini. Angin bulan Agustus. Saya juga melihat beberapa kapal nelayan yang tertambat begitu saja diombang-ambingkan angin dan ombak. Beberapa kali diteriakin “jangan main sampai tengah” hehehe. Maaf buuuk, kami kemaruk main di laut, nggak tiap hari ketemu laut, deburan ombak dan desiran angin ~~~


Ketika hampir Ashar kami pulang, pamitan sama bapk-ibu-anak yang masih melanjutkan aktifitas mereka. Begitu nyampek diteras rumah, kami langsung leyeh-leyeh, pegel badan, setengah jam diombang-ambing dilautan lepas *tsahh*. Eh ketiduran bos, melek-melek uda setengah 4 sore aja. Sama Yu’ nya Faiz ditawarin main dipantai lagi *asikkk* pantai barat katanya, bahkan kami dipinjemin motor buat kesana, soalnya jaraknya lumayan jauh.

Pertanyaan kedua terjawab disini, pas kumur-kumur buat sikat gigi, airnya beneran asiiin, tapi pas saya minum teh yang dibuatkan Yu’, airnya nggak asin kok, tehnya enak, hihihi.
Setelah makan mie goreng dan nyemil ote-ote-yang-ditemploki-udang-diatasnya, fyi, ote-otenya enaaaaak bangeeet *mungkin karena saya laper banget ^-^v*tapi udangnya saya hibahkan mbak Faiz, karena ada kenangan buruk dengan udang semasa SD :’) sedih yaa, padahal udang itu enaak :9 *dulu, sebelum kejadian itu*. Ibadah sudah, saatnya cus pantai barat. Kali ini saya yang pegang kemudi motor, ahay, pegangan mbak Faiz!!! Jalanannya emang segini, muat 2 motor kalo papasan, muat 4 kambing domba kalo dijejer, dan jalannya sama, ‘kismis’ domba kambingnya ambyar dijalan. Rencananya mau kejar sunset sore itu. Dan setibanya di pantai barat……..



Allahuakbar, pantainya buagus… ciamik, pasir pantainya putihhhhh banget, rame juga sama pemuda-pemudi penduduk sana yang juga hunting sunset sore itu. Nggak ada kambing domba, adanya sampah :’(.

Here we go…



                                                          disini pun inget Ko-as :')





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan berikan komentar :D demi terciptanya blog yang aman, damai dan sejahtera #eeeh